Rabu, 28 Oktober 2020

Arah mata hati

 Aku terus berlari sekencang kencangnya, berlari ke arah yang berlawanan dengan mu. Berlari tanpa tau apa yang dituju di depan sana, yang ku tau berlari ke depan sana. Padahal tanpa ku sadari aku berlari ke belakang, aku masih berlari di belakangmu. Diam diam tanpa kamu tau, aku pun sebenarnya sering kali tak tau. Serpihan serpihan itu menuntun hati untuk pulang ke rumahnya, perihal hati tak dapat dinalar.

  Kamu jangan khawatir karena aku tak lupa untuk sesekali istirahat. Ibu juga memberiku bekal makan, aku selalu menghabiskan bekal dari ibu. Kamu juga jangan khawatir karena ternyata banyak orang yang berlarian sama seperti ku, saat ku tanya mereka hanya menjawab, " aku gapapa kok " dengan nafas yang terengah-engah. Kamu tau? Mereka ada yang jatuh, tertabrak, bahkan mati karena bodoh berlari tanpa henti. 

  Sepanjang perjalanan banyak yang menjajakan jajanan manis ditepi jalan, aku tak tertarik karena yang manis manis tak baik untuk hati. Aku pernah berlari dengan mata terpejam, aku menabrak aral. Lumayan sakit tapi aral memberitahuku, "berhenti berlari. Hatimu masih tertinggal, percuma saja". 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sesal berjejal

 Sesal berjejal hingga terjungkal ke pelataran ruang rindu, tak pantas rasanya. Aku malu pada waktu, bagaimana tidak? Waktu menuntun ku sena...