Sesal berjejal hingga terjungkal ke pelataran ruang rindu, tak pantas rasanya. Aku malu pada waktu, bagaimana tidak? Waktu menuntun ku senantiasa, dan aku? Begitu sibuk dengan sesal. Sejujurnya aku amat benci dengannya namun entah apa yang membuat ku seperti tak ingin lepas dari nya. Tak seperti waktu yang suka memberi sesuatu yang baru dan sulit diterka, sesal hanya memberi yang itu itu saja dan sebenarnya membosankan.
Lagi lagi hanya kata entah yang dapat ku simpulkan darinya, aku curiga sesal itu terbuat dari apa? Apakah sesal serupa dengan rindu? Mungkinkah sesal bagian dari waktu? Atau sesal adalah apa? Tumbuh atau muncul dari mana sebenarnya dia? Jika aku tau, mungkin akan ku potong akar akar nya atau ku rusak saja sarangnya, agar dia tak lagi mendekati ku.
Namun itu semua percuma karena aku tak tau apapun tentang nya, bodohnya diriku yang tak mengenalinya meskipun kerap bersama. Tapi waktu pasti tau, mungkin besok atau lusa aku akan menanyakan pada nya karena waktu pasti bisa menjawabnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar