Kamis, 29 Oktober 2020

Asu teles

 Hati ini ruang hampa

Tak berisi kosong melompong


Hujan kemarin sore menyapa

Lembaran baru berteriak meminta tolong


Badai lara menerpa

Menyeret buaian bohong


Puing kenangan jatuh mengisi

Rindu pun datang menangisi


Rapalan doa tak henti henti

Menanti isi hati yang sejati

Rabu, 28 Oktober 2020

Arah mata hati

 Aku terus berlari sekencang kencangnya, berlari ke arah yang berlawanan dengan mu. Berlari tanpa tau apa yang dituju di depan sana, yang ku tau berlari ke depan sana. Padahal tanpa ku sadari aku berlari ke belakang, aku masih berlari di belakangmu. Diam diam tanpa kamu tau, aku pun sebenarnya sering kali tak tau. Serpihan serpihan itu menuntun hati untuk pulang ke rumahnya, perihal hati tak dapat dinalar.

  Kamu jangan khawatir karena aku tak lupa untuk sesekali istirahat. Ibu juga memberiku bekal makan, aku selalu menghabiskan bekal dari ibu. Kamu juga jangan khawatir karena ternyata banyak orang yang berlarian sama seperti ku, saat ku tanya mereka hanya menjawab, " aku gapapa kok " dengan nafas yang terengah-engah. Kamu tau? Mereka ada yang jatuh, tertabrak, bahkan mati karena bodoh berlari tanpa henti. 

  Sepanjang perjalanan banyak yang menjajakan jajanan manis ditepi jalan, aku tak tertarik karena yang manis manis tak baik untuk hati. Aku pernah berlari dengan mata terpejam, aku menabrak aral. Lumayan sakit tapi aral memberitahuku, "berhenti berlari. Hatimu masih tertinggal, percuma saja". 

Minggu, 25 Oktober 2020

Menerka rasa

      Kita duduk bersama di kursi tepi jalan, aku tak tau apa yang sedang ada didalam benakmu sekarang. Lampu Kota berpejar pelan, orang-orang lewat dengan ponsel pintar digenggaman nya. Begitu juga dengan mu yang asik sendiri dengan ponsel pintarmu. Aku mencoba untuk mengawali obrolan kita, aku bingung, takut, dan gelisah. Kata apa yang harus ku lontarkan kepadamu, ku tatap wajahmu yang terlihat biasa saja namun cenderung tidak senang.

      Kacamata mu berkilauan seperti ada pelangi, mungkin ini yang dinamakan ada pelangi dimatamu. Aku tertawa kecil dalam hati sembari masih berfikir aku harus memulai obrolan ini dari mana. Kamu menoleh dengan tatapan yang sulit untuk ku tebak, datar dan semacam tidak merasakan apa apa. Aku tersenyum dan juga menatapmu, aku mencoba melontarkan pertanyaan yang sedari tadi sedang ku pikirkan, dan kamu hanya menjawab dengan dingin, aku benci situasi ini. 

      Otak ku mulai bereaksi dan muncul pertanyaan pertanyaan, kamu kenapa? Kenapa? dan kenapa? Tapi aku mencoba untuk biasa saja dan kembali melontarkan pertanyaan pertanyaan yang aneh dan lucu menurutku. Berharap kamu tertawa dan menjawab dengan raut wajahmu yang lucu saat tertawa, tapi tetap saja. Alih alih membuat suasana menjadi hangat dan penuh kenyamanan malah semakin menjadi dingin dan hening. Mungkin memang benar semua yang ada di dunia ini setiap saat bisa saja berubah, tapi ketika suatu perubahan itu terjadi tanpa sebab bagiku itu menyebalkan. Mungkin bukan tanpa sebab tapi aku saja yang tak mengetahuinya.

Aliran rindu

 Aku merindukanmu di tengah gelap malam, baiklah aku mengerti. Bintang tak mungkin datang selagi awan hitam masih menghadang. 

  Tuhanku yang maha cinta, turunkan lah sedikit cintamu untuk membasuh hatiku, Hati yang tengah kemarau. Kering, retak tak berbunga. 

   Bulan bisa berubah ubah, begitu juga dengan janji yang telah dibuat. Hujan turun rinduku bertambah pilu, harusnya aku bersyukur atas Rahmat Tuhan yang diturunkan, ah tidak aku ini kenapa. 

  Aku ingin menangis seperti bocah, merengek pada ibunya ingin permen. tak dibolehkan karena nanti sakit gigi katanya. Bermanis-manis dahulu bersakit-sakit kemudian. 

  Terdengar lirih air mengalir di sela-sela bebatuan sungai. Tenang dan tak bergaduh, nampaknya mereka tengah memadu kasih dan melepas rindu setelah lama kemarau. 

  Andai saja rindu bisa di bendung, akan ku buat satu bendungan rindu yang besar untukku. Tapi Untukmu tak perlu itu, bendungan rindu untuk apa, sedangkan rindu sudah tak mengalir darimu. Entah mengalir kemana kurasa bukan aku lagi hilir nya.

Sesal berjejal

 Sesal berjejal hingga terjungkal ke pelataran ruang rindu, tak pantas rasanya. Aku malu pada waktu, bagaimana tidak? Waktu menuntun ku sena...