Kamis, 31 Desember 2020

Sesal berjejal

 Sesal berjejal hingga terjungkal ke pelataran ruang rindu, tak pantas rasanya. Aku malu pada waktu, bagaimana tidak? Waktu menuntun ku senantiasa, dan aku? Begitu sibuk dengan sesal. Sejujurnya aku amat benci dengannya namun entah apa yang membuat ku seperti tak ingin lepas dari nya. Tak seperti waktu yang suka memberi sesuatu yang baru dan sulit diterka, sesal hanya memberi yang itu itu saja dan sebenarnya membosankan. 

     Lagi lagi hanya kata entah yang dapat ku simpulkan darinya, aku curiga sesal itu terbuat dari apa? Apakah sesal serupa dengan rindu? Mungkinkah sesal bagian dari waktu? Atau sesal adalah apa? Tumbuh atau muncul dari mana sebenarnya dia? Jika aku tau, mungkin akan ku potong akar akar nya atau ku rusak saja sarangnya, agar dia tak lagi mendekati ku. 

     Namun itu semua percuma karena aku tak tau apapun tentang nya, bodohnya diriku yang tak mengenalinya meskipun kerap bersama. Tapi waktu pasti tau, mungkin besok atau lusa aku akan menanyakan pada nya karena waktu pasti bisa menjawabnya.



Jumat, 06 November 2020

Dari balik jendela sendu

 Kamu tau? Aku diam diam memperhatikan semua tentang mu, tentang kebahagiaan mu itu semua aku tau, dari kejauhan aku selalu memperhatikanmu. Dari ujung jalan di perempatan, dari jendela di kelasmu, bahkan dari sosial media mu yang tak pernah luput dari perhatian ku.

   Semua penampilan mu yang semakin hari berubah semakin menunjukkan hari yang sudah dilalui begitu cepat, kamu jadi mahir berdandan hihi. Meski agak terlihat jadi lebih tua menurutku, dengan goresan pensil di alis mu, dan kacamata itu kini sudah tak lagi kamu pakai. Maaf yah aku tak bermaksud menyakiti mu atas perkataanku ini. Aku hanya berkata jujur atas apa yang kurasa, begitu juga dengan rasa ini yang tak kunjung berubah meski sudah banyak hal yang berubah.

    Kamu masih ingat dengan Sepasang ikan hiu yang kita tangkap bersama di samudera Atlantik? Atau dengan beruang kutub yang ku tangkap dari kutub Utara yang selalu jadi teman berkelahi saat kamu sedang datang bulan, kamu ingat? Jika kamu tak ingat itu hal yang wajar tapi kamu jangan pernah lupa yaa, cuci tangan yang bersih kalau selesai makan dengan sambal terasi buatan ibu. Hobimu yang suka mengelus rambut dan mencubit hidungku, bau terasi dan juga hidung menjadi panas, terkadang juga mengenai mata. 

    Aku tak pernah marah karena kamu itu cengeng dan kalau sudah menangis, basah bajuku karena semua ingus mu itu. Aku bersedia menyimpan semua ingatan itu jika kamu merasa tak ingin menyimpan atau ingin membuangnya, sekalipun dibuang terkadang aku pun memungut nya. 

Kamis, 05 November 2020

Hati tak bertuan

 Dimalam yang se anjing ini, lagi lagi hati ini menggonggong memanggil namamu. Saat ku tanya "hey kau kenapa?", Hati ini menggonggong semakin keras. Ku tanya lagi dengan nada yang lebih tinggi, "hey hey! Kau ini kenapa? Berisik sudah malam". Gonggongan ini semakin bertambah keras, aku mencoba untuk sedikit lebih tenang dan kembali mengajukan pertanyaan. "Hey kau kenapa? Aku ini tuan mu", akhirnya hati yang sedari tadi menggonggong dengan keras, kini mulai terdiam dan memilih pergi sendiri, nampak terlihat sedih dan membenciku.

Kamis, 29 Oktober 2020

Asu teles

 Hati ini ruang hampa

Tak berisi kosong melompong


Hujan kemarin sore menyapa

Lembaran baru berteriak meminta tolong


Badai lara menerpa

Menyeret buaian bohong


Puing kenangan jatuh mengisi

Rindu pun datang menangisi


Rapalan doa tak henti henti

Menanti isi hati yang sejati

Rabu, 28 Oktober 2020

Arah mata hati

 Aku terus berlari sekencang kencangnya, berlari ke arah yang berlawanan dengan mu. Berlari tanpa tau apa yang dituju di depan sana, yang ku tau berlari ke depan sana. Padahal tanpa ku sadari aku berlari ke belakang, aku masih berlari di belakangmu. Diam diam tanpa kamu tau, aku pun sebenarnya sering kali tak tau. Serpihan serpihan itu menuntun hati untuk pulang ke rumahnya, perihal hati tak dapat dinalar.

  Kamu jangan khawatir karena aku tak lupa untuk sesekali istirahat. Ibu juga memberiku bekal makan, aku selalu menghabiskan bekal dari ibu. Kamu juga jangan khawatir karena ternyata banyak orang yang berlarian sama seperti ku, saat ku tanya mereka hanya menjawab, " aku gapapa kok " dengan nafas yang terengah-engah. Kamu tau? Mereka ada yang jatuh, tertabrak, bahkan mati karena bodoh berlari tanpa henti. 

  Sepanjang perjalanan banyak yang menjajakan jajanan manis ditepi jalan, aku tak tertarik karena yang manis manis tak baik untuk hati. Aku pernah berlari dengan mata terpejam, aku menabrak aral. Lumayan sakit tapi aral memberitahuku, "berhenti berlari. Hatimu masih tertinggal, percuma saja". 

Minggu, 25 Oktober 2020

Menerka rasa

      Kita duduk bersama di kursi tepi jalan, aku tak tau apa yang sedang ada didalam benakmu sekarang. Lampu Kota berpejar pelan, orang-orang lewat dengan ponsel pintar digenggaman nya. Begitu juga dengan mu yang asik sendiri dengan ponsel pintarmu. Aku mencoba untuk mengawali obrolan kita, aku bingung, takut, dan gelisah. Kata apa yang harus ku lontarkan kepadamu, ku tatap wajahmu yang terlihat biasa saja namun cenderung tidak senang.

      Kacamata mu berkilauan seperti ada pelangi, mungkin ini yang dinamakan ada pelangi dimatamu. Aku tertawa kecil dalam hati sembari masih berfikir aku harus memulai obrolan ini dari mana. Kamu menoleh dengan tatapan yang sulit untuk ku tebak, datar dan semacam tidak merasakan apa apa. Aku tersenyum dan juga menatapmu, aku mencoba melontarkan pertanyaan yang sedari tadi sedang ku pikirkan, dan kamu hanya menjawab dengan dingin, aku benci situasi ini. 

      Otak ku mulai bereaksi dan muncul pertanyaan pertanyaan, kamu kenapa? Kenapa? dan kenapa? Tapi aku mencoba untuk biasa saja dan kembali melontarkan pertanyaan pertanyaan yang aneh dan lucu menurutku. Berharap kamu tertawa dan menjawab dengan raut wajahmu yang lucu saat tertawa, tapi tetap saja. Alih alih membuat suasana menjadi hangat dan penuh kenyamanan malah semakin menjadi dingin dan hening. Mungkin memang benar semua yang ada di dunia ini setiap saat bisa saja berubah, tapi ketika suatu perubahan itu terjadi tanpa sebab bagiku itu menyebalkan. Mungkin bukan tanpa sebab tapi aku saja yang tak mengetahuinya.

Aliran rindu

 Aku merindukanmu di tengah gelap malam, baiklah aku mengerti. Bintang tak mungkin datang selagi awan hitam masih menghadang. 

  Tuhanku yang maha cinta, turunkan lah sedikit cintamu untuk membasuh hatiku, Hati yang tengah kemarau. Kering, retak tak berbunga. 

   Bulan bisa berubah ubah, begitu juga dengan janji yang telah dibuat. Hujan turun rinduku bertambah pilu, harusnya aku bersyukur atas Rahmat Tuhan yang diturunkan, ah tidak aku ini kenapa. 

  Aku ingin menangis seperti bocah, merengek pada ibunya ingin permen. tak dibolehkan karena nanti sakit gigi katanya. Bermanis-manis dahulu bersakit-sakit kemudian. 

  Terdengar lirih air mengalir di sela-sela bebatuan sungai. Tenang dan tak bergaduh, nampaknya mereka tengah memadu kasih dan melepas rindu setelah lama kemarau. 

  Andai saja rindu bisa di bendung, akan ku buat satu bendungan rindu yang besar untukku. Tapi Untukmu tak perlu itu, bendungan rindu untuk apa, sedangkan rindu sudah tak mengalir darimu. Entah mengalir kemana kurasa bukan aku lagi hilir nya.

Sesal berjejal

 Sesal berjejal hingga terjungkal ke pelataran ruang rindu, tak pantas rasanya. Aku malu pada waktu, bagaimana tidak? Waktu menuntun ku sena...