Minggu, 25 Oktober 2020

Menerka rasa

      Kita duduk bersama di kursi tepi jalan, aku tak tau apa yang sedang ada didalam benakmu sekarang. Lampu Kota berpejar pelan, orang-orang lewat dengan ponsel pintar digenggaman nya. Begitu juga dengan mu yang asik sendiri dengan ponsel pintarmu. Aku mencoba untuk mengawali obrolan kita, aku bingung, takut, dan gelisah. Kata apa yang harus ku lontarkan kepadamu, ku tatap wajahmu yang terlihat biasa saja namun cenderung tidak senang.

      Kacamata mu berkilauan seperti ada pelangi, mungkin ini yang dinamakan ada pelangi dimatamu. Aku tertawa kecil dalam hati sembari masih berfikir aku harus memulai obrolan ini dari mana. Kamu menoleh dengan tatapan yang sulit untuk ku tebak, datar dan semacam tidak merasakan apa apa. Aku tersenyum dan juga menatapmu, aku mencoba melontarkan pertanyaan yang sedari tadi sedang ku pikirkan, dan kamu hanya menjawab dengan dingin, aku benci situasi ini. 

      Otak ku mulai bereaksi dan muncul pertanyaan pertanyaan, kamu kenapa? Kenapa? dan kenapa? Tapi aku mencoba untuk biasa saja dan kembali melontarkan pertanyaan pertanyaan yang aneh dan lucu menurutku. Berharap kamu tertawa dan menjawab dengan raut wajahmu yang lucu saat tertawa, tapi tetap saja. Alih alih membuat suasana menjadi hangat dan penuh kenyamanan malah semakin menjadi dingin dan hening. Mungkin memang benar semua yang ada di dunia ini setiap saat bisa saja berubah, tapi ketika suatu perubahan itu terjadi tanpa sebab bagiku itu menyebalkan. Mungkin bukan tanpa sebab tapi aku saja yang tak mengetahuinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sesal berjejal

 Sesal berjejal hingga terjungkal ke pelataran ruang rindu, tak pantas rasanya. Aku malu pada waktu, bagaimana tidak? Waktu menuntun ku sena...